Tampilkan postingan dengan label kasus fayakhun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus fayakhun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Fayakhun, Pemuda Udik Pergi ke Kota

Fayakhun andriadi dan Permadi adalah dua pemuda udik yang berasal dari daerah pesisir Kebumen. Mereka adalah pemuda dari kampung kecil di pelosok desa. Dasar wong ndeso, mereka belum pernah pergi ke kota besar semacam Jakarta.  Jangankan ke Jakarta, ke Kota Jogja pun belum pernah. Malioboro belum pernah lihat. Mereka sehari-hari hanya pergi ke sawah, angon kerbau, nyari rumput, dan membantu orang tuanya membuat batu bata. Sekolah SD tidak tamat, sehingga mereka tidak bisa membaca dan menulis.

Fayakhun, Pemuda Udik Pergi ke Kota


Suatu hari ketika kerjaan sepi, mereka rasan-saran sambil menggembala kerbau-kerbaunya. Terlintas di benak mereka keinginan untuk nekad pergi ke Jakarta, ingin tahu riuhnya kota metropolitan tersebut. Akhirnya, dengan modal menjual ayam peliharaannya, mereka berdua ngluyur ke Jakarta menggunakan bus angkutan. Sebelum berangkat, mereka pamitan. Bilang sama orangtua katanya ingin refreshing, biar kayak orang kota aja. Di sepanjang perjalanan, mereka tertegun dengan bangunan-bangunan megah nan menjulang tinggi. Setiap ada bangunan megah, mereka riuh satu sama lain, sehingga membuat penumpang lain pada melongo keheranan. Duh jan, memang dasar anak kampung.

Sesampainya di Jakarta,  mereka turun di terminal. Saking bahagianya, mereka berjalan penuh kegirangan. Dipandangnya gedung-gedung mall, perkantoran, perumahan, gedung-gedung pemerintahan, dan aneka bangunan pencakar langit. Mata mereka tiba-tiba tertuju pada bangunan yang cukup megah. Ternyata bangunan tersebut adalah Bank BNI.  Karena penasaran dan belum tahu bangunan apa, mereka mengelilingi gedung tersebut.

Tepat di depan pintu masuk, mereka melihat tulisan berbahasa Inggris “open”. Mereka tidak tahu kalau maksud tulisan tersebut bahwa Bank pada hari itu buka. Mereka mengira itu adalah nama bangunan tersebut. Melihat tulisan open, pikiran mereka langung teringat pada alat untuk memanaskan adonan roti yang namanya juga open. Lalu mereka saling bertanya satu sama lain, “Kalau open besarnya segini, kira-kira rotinya sebesar apa?”, tanya Fayakhun dan Permadi keheranan.
Fayakhun andriadiKetika mata mereka sedang asyik mengamati tulisan “open” tersebut, tiba-tiba sesosok Bule berambut putih dan berkulit putih masuk ke dalam Bank tersebut. Tanpa pikir panjang, mereka berteriak, “Pak, Pak! Jangan masuk open nanti gosong!”. Mereka terlihat was-was dan gelisah melihat si Bule ngeluyur masuk Bank.

Di tengah jiwa mereka yang tegang, selang sepuluh menit, keluarlah dari Bank tersebut orang negro yang berambut kribo dan berkulit hitam. Spontan saja mereka menggerutu, “Rak tenan to, gosong!,” teriak Fayakhun dan Permadi mantap.


Kamis, 15 Juni 2017

Fayakhun Andriadi: Dua Wajah Teknologi


Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, adalah anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ir. Haditirto Djoyodirdjo dan Etty Artiadi. Fayakhun berasal dari keluarga pekerja keras. Di usia 23 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Semarang. Politisi muda yang sekarang menjadi anggota DPR RI ini semenjak kecil telah terbiasa berprestasi dan mengikuti berkembangan zaman. Selain sibuk di dunia politik, Fayakhun masih menyempatkan diri berbagi pemikiran melalui tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya membahas mengenai “teknologi” yang menjadi salah satu bidang keahliannya.

Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Demokrasi di Tangan Netizen”, Fayakhun Andriadi menyebutkan bahwa beberapa pemikir menggambarkan teknologi sama seperti Janus. Janus adalah sosok dewa dalam mitologi Yunani yang digambarkan memiliki wajah ganda: satu wajah mengghadap ke depan, yang lainnya menghadap ke belakang. Seperti penggambaran sosok Dewa Janus, teknologi juga diyakini selalu memiliki dua wajah: positif dan negatif, baik dan buruk, untung dan rugi, hitam dan putih.

Teknologi bukan sekedar perkara baik dan buruk, diterima atau ditolak. Teknologi membawa ambiguitas dalam dirinya. Karlina Supelli berpendapat bahwa tidak ada arah tunggal dalam kemajuan teknologi (2013). Sebagai contoh misalnya, penemuan teknologi mobil membawa manusia menjadi lebih efektif dan efisien dalam bergerak. Hal ini menjadi sisi positif dalam perubahan yang dibawanya, atau bisa disebut sebagai “wajah depan” dari kemajuan teknologi. Meskipun demikian, secara bersamaan, penemuan teknologi mobil tadi juga berdampak terhadap kerusakan lingkungan, utamanya menciptakan polusi udara. Inilah sisi negatif dari kemajuan teknologi atau bisa disebut sebagai “wajah belakang” dalam yang disimbolkan oleh Dewa Janus dalam mitologi Yunani tadi. 

fayakhun andriadi Penemuan teknologi nuklir juga memiliki efek serupa. Teknologi nuklir yang digunakan di dunia medis bisa menyelamatkan hidup jutaan manusia yang sebelumnya dianggap tidak bisa tertolong. Meskipun demikian, pada sisi lain “wajah belakang” dari ditemukannya tenaga nuklir bisa juga digunakan sebagai senjata pembunuh massal, pembunuh jutaan orang yang tidak berdosa.

Manusia tidak dapat mengambil sisi positif teknologi, lalu membuang sisi buruknya begitu saja. Keduanya sudah menajdi satu paket secara utuh. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mencari penawar bagi sisi negatif, buruk, rugi, dan hitam dari teknologi atau yang tadi kita istilah dengan kata “wajah belakang” teknologi fayakhun andriadi


Kamis, 08 Juni 2017

Belajar dari Fayakhun Cerdas Menaklukkan Rasa Cinta

Bagi Fayakhun, cinta yang mualanya adalah rahmat, gara-gara ketidakmengertian si pelaku, bagaimana cara menanganinya, malah jadi bencana. Jangan salah, harre genne yang nggak ngerti mengelola cinta, banyak banget!

Belajar dari Fayakhun Cerdas Menaklukkan Rasa Cinta


Fayakhun mengutip dari tulisanna Zizi Hefni dari buku “Pacaran After Marrid”, umumnya yang gagal menangani rasa cintanya sendiri adalah mereka yang tidak menyelaraskan hatinya dengan akal pikirannya. Bukan Cuma itu, mereka pasti juga tidak memahami ajaran agama mereka sendiri. Sebab, di agama mana pun khususnya islam, cinta itu punya prosedur dan prosesi yang sakral dan bermartabat. Secara, cinta adalah rasa agung, nggak mungkin dong aplikasinya pakai cara asal-asalan dan serampangan, alias tidak melibatkan akal dan norma agama?

Fayakhun, walaupun ia jatuh cinta tapi juga dengan menggunakan pikiran yang jernih. Ia tidak mau cinta buta. Ia tidak semena-mena terjebak dengan perasaan cinta. Walaupun dia mencintai seseorang wanita, tapi dia tidak terjebak dengan balada cinta. Semua aktivitas kesehariannya dijalani dengan baik.

Ada pilihan cara yang masing-masing punya konsekuensi, kata Fayakhun. Allah menumbuhkan bibit percintaan dalam hati setiap manusia tanpa terkecuali. Yang miskin, yang kaya, yang bego, yang pinter, yang ganteng, yang cebol, yang cacat, yang sakit semua, menurut Fayakhun rata. Bibit itu tumbuh secara alami dan menemukan nasibnya sendiri.

Bukan berarti yang kaya jatuh cinta sama yang jelek. Bisa jadi yang kaya klepek-klepek sama yang miskin. Yang cantik berletuk lutut sama yang jelek. Menurut Fayakhun, kalau ada yang ngomong, cinta bermula dari pandangan mata, itu ada benarnya juga. Secara, liat laki-laki ganteng, nggak usah munafik, kalau hati kecilmu mengangumi keistimewaan itu. jangan salah, menurut Fayakhun, banyak penelitian, mata itu memiliki kekuatan magis untuk menarik hasrat seseorang. Bahkan hanya dengan mengerlingkan mata, seseorang yang sedang dalam keadaan stabil, bisa tiba-tiba kehilangan konsentrasi.


Fayakhun bakamla mengutip M. Quraisy Syihab dalam buku pengantin Al-Qur’an, menuliskan kalau mata adalah indra yang paling dominan peranannya dalam memilih kekasih serta melestarikan kasih. Bila mata sudah tertarik pada satu objek, maka objek itu akan dinilai cantik dan indah.

Senin, 05 Juni 2017

Fayakhun, Orang yang Tidak Mengendalikan Nafsunya dalam Cinta

Bagi Fayakhun, susah bagi orang yang berurusan dengan orang yang labil dalam hal ketahanan nafsu. Biasanya, orang-orang yang tidak bisa mengendalikan nafsunya adalah mereka yang tidak ajeg secara emosi dan rasio. Kalau orang yang sudah matang emosi dan rasio, dia tidak akan dikendalikan nafsu.

Fayakhun, Orang yang Tidak Mengendalikan Nafsunya dalam Cinta
fayakhun

Orang-orang seperti ini bagi Fayakhun, adalah orang yang mempunyai spiritualitas yang kuat. Akan selalu memahami peranannya sebagai hamba Allah yang berkewajiban mematuhi semua ketentuan yang dibuat-Nya.

Bagi Fayakhun, dia menganggap jangan menyalahkan nafsunya. Bagi Fayakhun, nafsu menjadi salah satu karakter yang melekat dalam diri manusia. Diusir gimana-gimana juga, si nafsu nggak bakal menyingkir. Justru yang nggak punya nafsu itu malaikat namanya.
Bagi Fayakhun, benalu itu sebenarnya ada pada kesadaran diri oran itu sendiri. Kalau kesadaran diri orang sudah tidak jelas titik tumpunya, gimana bisa membedakan mana yang salah mana yang benar? Menurut Fayakhun, ia tidak punya kesadaran sebagai manusia beragama, manusia berbudaya dan menusia beradab.

Pesan dari Fayakhun, jangan sampailah dari mata yang mengandung fungsi malaikat, malah berubah jadi petaka buatmu. Mulailah percintaanmu dari pandangan yang baik. Jalanilah percintaanmu dengan cara yang baik pula. Kalau sudah niat dan caranya baik, insyaAllah akan sampai pada tujuan yang baik.

Bagi Fayakhun, seperti halya manusia, setan makin kebelakang hari, kayaknya makin cerdik. Mungkin setan juga dituntut menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Kalau dulu setan menggoda adam dan hawa, hanya melalui rayuan manualya untuk makan buah khuldi, kini setan menggoda manusia dengan berbagai macam cara yang canggih dan modern.


Jumat, 02 Juni 2017

Fayakhun Andriadi Tegaskan Indonesia Sudah Saatnya Swasembada Alutsista

            Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Fayakhun Andriadi beberapa tahun yang lalu pernah melontarkan gagasan bernas terkait dunia alutsista di Indonesia. Fayakhun Andriadi menegaskan bahwa Indonesia sudah saatnya menjadi negara yang memiliki swasembada alutsista.

Fayakhun Andriadi Tegaskan Indonesia Sudah Saatnya Swasembada Alutsista

            Pada sebuah kesempatan, Fayakhun Andriadi mengatakan bahwa PT Pindad yang merupakan salah satu pabrik yang memproduksi alutsista di negeri ini sudah mampu jadi pionir swasembaga alutsista.
"Jika PT Pindad sudah mampu mendesain, merekayasa, memproduksi senjata laras pendek dan laras panjang, bukankah sesungguhnya kita sudah (mulai menjalani) swasembada pistol dan bedil," kata Fayakhun Andriadi mantap.
Fayakhun Andriadi kemudian menjelaskan bahwa dengan pengalaman bertempur TNI dan kemajuan dunia pertahanan Indonesia, sesungguhnya Indonesia sudah mampu untuk memproduksi sebanyak-banyaknya senjata untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kemudian di jual ke luar.
            Sayangnya, kata Fayakhun Andriadi, pemerintah kadang malah menggunakan kredit ekspor dari negara lain untuk mengimpor alutsista.
            “Ini kan aneh. Harusnya memberdayakan anak-anak dalam negeri yang sudah mampu membuat alutsista sendiri. Bukan malah membeli alutsista dari luar,” tegas Fayakhun Andriadi.
            Fayakhun menyebut bahwa PT Pindad sudah mampu swasembada granat, mortir ukuran lima dan delapan serta meriam kaliber menengah.
            “Hal-hal seperti itu yang harus didukung dan disebarluaskan. Kalau tidak kita sebarkan, mana orang-orang tahu kalau bangsa kita sudah mampu memproduksi alutsista? Jangan terus-terusan kita mengimpor senjata dari luar negeri, karena mungkin dengan cara itu, bisa membuat ‘gemuk’ orang-orang tertentu,” jelas Fayakhun Andriadi.
            Jika kita menggunakan senjata produksi sendiri, lanjut Fayakhun, itu akan lebih menguntungkan negara. Dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh PT Pindad, ia menganjurkan agar PT Pindad selanjutnya mengembangkan swasembada roket serta peralatan yang terletak pada awak.
            “Peralatan yang saya maksud itu ya seperti baju, sepatu, helm, rompi, pistol, bedil, granat hingga amunisinya,” kata Fayakhun.
            Sebagian besar item yang saya sebutkan tadi, lanjut Fayakhun Andriadi sudah bisa kita produksi sendiri. Jadi ngapain kita beli produk orang lain sementara kita punya dan bisa memproduksi sendiri?
            “Dengan fakta-fakta tersebut, sudah seharusnya kita bisa swasembada alutsista beneran. Jangan lagi impor-impor terus dari luar. Mereka keenakan produknya kita beli, sementara produk kita tidak kita beli sendiri,” jelas Fayakhun.
            Jangan lagi, lanjut FayakhunAndriadi, kita biarkan segelintir orang menikmati kebijakan impor alutsista. Ayolah mandiri dan berdaulat di bidang alutsista.


Fayakhun Andriadi Tegaskan Perlunya Meningkatkan di Bidang Pertahanan dan Keamanan

Perkembangan lingkungan strategik di era globalisasi yang mengedepankan prinsip ketergantungan dan keterhubungan (connectedness), kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi, komunikasi dan transportasi, menimbulkan kerawanan yang mengancam keamanan nasional hingga keutuhan dan kedaulatan negara.

Fayakhun Andriadi Tegaskan Perlunya Meningkatkan di Bidang Pertahanan dan Keamanan


Demikian ditegaskan oleh Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta dalam sebuah kesempatan.

Fayakhun Andriadi kemudian menjelaskan bahwa ancaman itu bersumber dari tindakan kejahatan yang terorganisir yang dilakukan oleh non-state actor, berupa tindakan terorisme, sabotase, economic international crime (illegal loging, illegal fishing, illegal mining), human trafficking, drug trafficking, konflik komunal, pencucian uang dan lain sebagainya.
“Ancaman ini, dipandang sebagai ancaman asimetrik yang bakal mengganggu stabilitas nasional,” jelas Fayakhun Andriadi.

Para pelaku kejahatan tersebut, lanjut Fayakhun memanfaatkan teknologi dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang canggih. Sementara negara tidak mengimbangi kekuatan tersebut.
“Oleh karenanya, negara perlu melakukan peningkatan fungsi pertahanan dan keamanan dengan dukungan peralatan teknologi canggih dan memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, perlu dilakukan,” ungkap Fayakhun Andriadi.

kualitas pertahanan


Fayakhun Andriadi menilai bahwa dari segi kualitas dan kuantitas, fungsi pertahanan dan keamanan yang didukung oleh alutsista di negeri ini belum memadai. Kondisi ini menyebabkan tidak tuntasnya penyelesaian kasus-kasus sengketa wilayah perbatasan, pelanggaran kedaulatan wilayah udara maupun pelanggaran wilayah batas perairan laut oleh kapal perang maupun kapal lain negara asing.
“Bisa tidak bisa, pengembangan teknologi atau industri strategis bidang pertahahnan dan keamanan harus ditingkatkan,” kata Fayakhun Andriadi.

Sebab, lanjutnya, industri dan teknologi di bidang tersebut merupakan bagian penting dari industri strategis dan cermin kemajuan dan kredibilitas bangsa dan negara dalam dunia internasional.
“Indonesia sudah memiliki industri strategis di bidang pertahanan dan keamanan, seperti PT. PAL, PT. PINDAD, PT. DIRGANTARA INDONESIA, PT. Krakatau Steel, PT. Dahana, PT. Industri Kereta Api dan lain-lain sebagainya,” ungkap Fayakhun
Akan tetapi, kata Fayakhun pemanfaatan hasil produksi belum maksimal digunakan oleh ens user (TNI dan Polri) karena belum mampu memenuhi kebutuhan penyediaan, pemeliharaan dan modernisasi alutsisa.
Fayakhun kemudian menjelaskan kendala-kendala bagi pengembangan industri pertahanan dan keamanan dalam negeri

“Ya ada kondisi geopolitik, komitmen dan kebijakan penganggaran, ketidakpastian dan ketidakberlanjutan produks, ketersediaan sumber daya manusia dan kebutuhan investasi,” kata Fayakhun Andriadi.
Atas dasar itu, lanjut Fayakhun Andriadi, dibutuhkan sekali pengembangan industri strategis bidang pertahanan dan keamanan dalam negeri, melalui keputusan politik negara.
Di era globalisasi, ancaman terhadap negara bukan hanya invasi militer, tapi juga terhadap sumber-sumber kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan bangsa dan negara.

“Fungsi pertahanan dan keamanan tidak hanya bersifat fisik, tapi juga non fisik,” tandas Fayakhun Andriadi