Fayakhun andriadi dan Permadi adalah dua pemuda udik
yang berasal dari daerah pesisir Kebumen. Mereka adalah pemuda dari kampung
kecil di pelosok desa. Dasar wong ndeso, mereka belum pernah
pergi ke kota besar semacam Jakarta. Jangankan ke Jakarta, ke Kota Jogja
pun belum pernah. Malioboro belum pernah lihat. Mereka sehari-hari hanya pergi
ke sawah, angon kerbau, nyari rumput, dan membantu orang tuanya membuat batu
bata. Sekolah SD tidak tamat, sehingga mereka tidak bisa membaca dan menulis.
Suatu hari ketika kerjaan sepi, mereka rasan-saran
sambil menggembala kerbau-kerbaunya. Terlintas di benak mereka keinginan untuk
nekad pergi ke Jakarta, ingin tahu riuhnya kota metropolitan tersebut. Akhirnya,
dengan modal menjual ayam peliharaannya, mereka berdua ngluyur ke Jakarta
menggunakan bus angkutan. Sebelum berangkat, mereka pamitan. Bilang sama
orangtua katanya ingin refreshing, biar kayak orang kota aja. Di sepanjang
perjalanan, mereka tertegun dengan bangunan-bangunan megah nan menjulang
tinggi. Setiap ada bangunan megah, mereka riuh satu sama lain, sehingga membuat
penumpang lain pada melongo keheranan. Duh jan, memang dasar anak kampung.
Sesampainya di Jakarta, mereka turun di
terminal. Saking bahagianya, mereka berjalan penuh kegirangan. Dipandangnya
gedung-gedung mall, perkantoran, perumahan, gedung-gedung pemerintahan, dan
aneka bangunan pencakar langit. Mata mereka tiba-tiba tertuju pada bangunan
yang cukup megah. Ternyata bangunan tersebut adalah Bank BNI. Karena
penasaran dan belum tahu bangunan apa, mereka mengelilingi gedung tersebut.
Tepat di depan pintu masuk, mereka melihat
tulisan berbahasa Inggris “open”. Mereka tidak tahu kalau maksud tulisan
tersebut bahwa Bank pada hari itu buka. Mereka mengira itu adalah nama bangunan
tersebut. Melihat tulisan open, pikiran mereka langung teringat pada alat untuk
memanaskan adonan roti yang namanya juga open. Lalu mereka saling bertanya satu
sama lain, “Kalau open besarnya segini, kira-kira rotinya sebesar apa?”, tanya Fayakhun
dan Permadi keheranan.
Fayakhun andriadi, Ketika mata mereka sedang asyik mengamati
tulisan “open” tersebut, tiba-tiba sesosok Bule berambut putih dan berkulit
putih masuk ke dalam Bank tersebut. Tanpa pikir panjang, mereka berteriak,
“Pak, Pak! Jangan masuk open nanti gosong!”. Mereka terlihat was-was dan
gelisah melihat si Bule ngeluyur masuk Bank.
Di tengah jiwa mereka yang tegang, selang
sepuluh menit, keluarlah dari Bank tersebut orang negro yang berambut kribo dan
berkulit hitam. Spontan saja mereka menggerutu, “Rak tenan to, gosong!,” teriak
Fayakhun dan Permadi mantap.



